Merangin, Jambi – Perkembangan terbaru terkait kasus perampokan bersenjata di Desa Gading Jaya, Tabir Selatan memunculkan babak baru. Nama seorang anggota polisi aktif berpangkat Bripka inisal C, yang bertugas di Kabupaten Merangin, ikut terseret dari informasi beredar setelah disebut oleh tersangka sebagai sosok yang dipanggil “Ketua 01.”
Namun setelah isu tersebut beredar luas, Suara Indonesia mencoba konfirmasi resmi kepada yang bersangkutan. Jawaban C memunculkan keterangan baru yang justru semakin membuka banyak tanda tanya.
Saat dikonfirmasi, Bripka C menegaskan dirinya tidak terlibat dalam perencanaan maupun arahan apapun terkait aksi perampokan tersebut.
“Sekarang saya belum dipertemukan dengan tersangka. Kalau memang saya memerintahkan atau mengarahkan, kenapa saya yang menangkap mereka?,” ujar Bripka C saat dikonfirmasi pada Minggu (23/11/2025).
Namun, bantahan C justru memunculkan poin yang membuat situasi semakin janggal. C kemudian mengaku bahwa pagi setelah aksi perampokan, ia sempat menelepon tersangka bernama Didi menanyakan soal ciri-ciri pelaku.
“Pagi setelah kejadian perampokan saya sempat nelpon (tersangka) Didi menanyakan karena ada gambaran pelaku itu mempunyai luka bakar di tangan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan besar, mengapa seorang polisi aktif memiliki nomor telepon tersangka kriminal dalam waktu singkat setelah kejadian perampokan? Sejauh apa hubungan mereka sebelumnya? Dari mana informasi luka bakar itu ia dapat, dan mengapa ditanyakan kepada tersangka pada pagi setelah kejadian perampokan?
Fakta bahwa C menghubungi tersangka pada pagi hari setelah perampokan, sebelum identitas para pelaku jelas, menjadi titik paling mencurigakan dalam pernyataannya.
C mengatakan dirinya sudah menyampaikan permintaan resmi agar dilakukan konfrontasi langsung dengan para tersangka untuk membuktikan tuduhan tersebut.
“Saya sudah menemui Pak KBO Pak Timbul. Saya ingin ini diklarifikasi dan saya ingin kami dikonfrontir, dari mana omongan itu muncul,” katanya.
“Saya tidak tahu apa-apa terkait kejadian itu, dan tuduhan itu saya tidak melakukannya,” tambahnya.
C juga mengaku telah meminta pihak Intelkam untuk berkoordinasi dengan Reskrim agar handphone miliknya dan handphone tersangka diperiksa (sele-greb).
Pernyataan tersebut sangat penting karena pemeriksaan digital akan membuka riwayat komunikasi, lokasi, dan pesan. Jika sebenarnya ada hubungan intens sebelumnya, temuan itu akan sulit dibantah.
C menyebut bahwa dirinya akan dipanggil penyidik Reskrim dan siap menjalani pemeriksaan.
“Katanya akan dipanggil pihak Reskrim, ya saya nunggu,” tuturnya.
Saat ini, status C dalam bayang-bayang dugaan keterlibatan, yang membuat situasinya semakin genting.
Hingga berita ini diterbitkan, dua versi informasi yang bertolak belakang kini menjadi pusat perhatian.
Kasus ini kini berkembang melampaui perampokan biasa. Ada indikasi komunikasi antara oknum aparat dengan salah satu pelaku pasca kejadian. Apakah itu komunikasi biasa? Atau bagian dari peran “Ketua 01” seperti pengakuan pelaku?
Penyidik Reskrim kini memegang peran kunci untuk mengurai simpul gelap tersebut. Redaksi akan terus mengawal kasus ini hingga terang benderang.
(Red.)





