Heboh Penggiringan Opini: Aktivis Filsafat Logika Bongkar “SESAT NALAR” Media Soal Mayat di Bekas Galian C

Banyuwangi, Suaraindonesia.online- GEMPAR, berita penemuan mayat di area bekas tambang galian C di Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, yang menyeret nama Ketua Partai Demokrat, kini justru berbalik arah.Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansya menuding media online telah melakukan “sesat nalar dan sarat framing” yang bertujuan menyesatkan publik secara sistematis.

Dalam pernyataan yang menggelegar, Raden Teguh dengan tegas membongkar kejanggalan dalam pemberitaan yang ia sebut sebagai penyakit logika.

Bacaan Lainnya

“Lokasinya itu bekas galian C, sudah tidak beroperasi bertahun-tahun! Tapi framing media dibuat seakan-akan masih ada aktivitas tambang ilegal. Ini bukan salah kaprah biasa, ini penggiringan opini kotor,” Tegas Raden mengecam keras narasi yang dibangun.

Lanjut,Raden mengatakan dia tak segan-segan menyebut kegagalan fatal media karena menghilangkan konteks krusial.

“Itu lahan milik pribadi, bukan milik negara, bukan fasilitas umum. Lalu dengan dasar apa pemilik lahan diseret dalam opini publik? Ini logika jenis apa?!,” suaranya meninggi, mempertanyakan akal sehat di balik pemberitaan.

Yang lebih mengejutkan, Raden Teguh menyoroti absennya nalar sebab akibat. Hingga kini motif tenggelamnya korban masih misteri, namun sudah banyak pihak yang buru-buru menunjuk “KAMBING HITAM”.

“Kita tidak tahu bagaimana korban bisa tenggelam. Tapi faktanya, di lokasi sudah ada peringatan tertulis larangan masuk kawasan itu, Ini fakta yang sengaja dikecilkan, bahkan dihilangkan!” kecamnya, mengungkap dugaan manipulasi informasi.

Dengan analogi lugas, Raden Teguh menampar balik para penuduh:

“Saya punya empang, saya pasang peringatan tertulis dilarang masuk. Lalu ada dua orang malam-malam diam-diam masuk tanpa izin. Salah satunya terpeleset dan tenggelam. Besoknya meninggal. Pertanyaannya sederhana: Apakah pemilik empang otomatis jadi penjahat? Jika logika sehat masih dipakai, maka jawabannya jelas, *TIDAK!*”

Puncaknya, Raden Teguh Firmansyah tak gentar menyebut sebagian oknum aktivis dan sumber opini sebagai “makelar isu” yang telah kehilangan fungsi intelektual.Ini bukan advokasi kemanusiaan, ini EKSPLOITASI TRAGEDI!.
“Tragedi dijadikan alat untuk menyerang individu yang tidak disukai. Logika ditinggalkan, akal sehat dikubur!” serunya.

Raden Teguh menutup dengan peringatan keras, bagi para “penggoreng isu”.

“Berhentilah menipu publik dengan logika palsu. Tanah itu milik pribadi, tidak ada aktivitas tambang lagi sejak lama. Kalau masih memaksa menggiring opini, berarti masalahnya bukan di lokasi kejadian, tapi di AKAL SEHAT KALIAN.imbuhnya.

Pewarta: Ganda

Editor: 5093N9

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *